Bagaimana Pendidikan Holistik?

Dengan latar belakang pernah mengikuti Kursus Pembina Pramuka Mahir tingkat Lanjut, saya mengetahui bahwa yang namanya pendidikan itu tidak bisa dikotak-kotakkan. Kalau ingin membentuk regu yang ideal, maka semua aspek harus diperhatikan, dari mulai kecakapan (SKU/SKK) setiap anggota, manajemen regu, kemampuan pembina, hingga support dari orangtua. Gerakan Pramuka dengan prinsip dasar dan metode-metodenya diharapkan bisa secara utuh melahirkan Warga Negara Indonesia yang baik.

Mengutip dari Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pasal 8 dan 9:

Prinsip Dasar Kepramukaan meliputi:
a. iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya;
c. peduli terhadap diri pribadinya; dan
d. taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.

Metode Kepramukaan
(1) Metode Kepramukaan adalah metode belajar interaktif dan progresif yang dilaksanakan melalui:
a. pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
b. belajar sambil melakukan;
c. kegiatan berkelompok, bekerjasama, dan berkompetisi;
d. kegiatan yang menarik dan menantang;
e. kegiatan di alam terbuka;
f. kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan;
g. penghargaan berupa tanda kecakapan; dan
h. satuan terpisah antara putra dan putri;
(2) Dalam menjalankan Metode Kepramukaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan Sistem Among dan Kiasan Dasar.

Dari kutipan tersebut, untuk menjalankan proses pembinaan, kata kuncinya ada dalam kalimat terakhir, yaitu Sistem Among. Ya, betul sekali, walaupun Gerakan Pramuka mengambil bentuk dan menginduk kepada organisasi kepanduan dunia, dalam hal ini WOSM (World Organization of the Scout Movement), namun para pembina ternyata wajib menerapkan kearifan lokal hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Ing ngarso sung tulodo; ing madyo mangun karso; tut wuri handayani.

Sebuah konsep pendidikan holistik asli Indonesia. Pendidikan yang mengutamakan hubungan manusia, diatas materi-materi pelajaran. Dan memang betul begitulah adanya, saat kita bisa membangun koneksi yang baik, antara semua pemegang kepentingan, maka kurikulum apa pun bisa dengan optimal diproses oleh peserta didik. Menjadi sia-sia, metode-metode/teknologi canggih, kalau diberikan tanpa koneksi/memanusiakan para pendidik dan peserta didiknya.

Ki Hadjar Dewantara (Gambar: wikimedia.org)

Sudahkah kita menyapa setiap anak yang kita bina/didik?

Sudahkah kita mengusahakan mengenal lebih jauh latar belakang anak-anak kita?

Berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk membangun koneksi dibandingkan memberi ceramah tentang materi pelajaran?

Seberapa sering para pendidik kita bekolaborasi?

Di masa depan, pendidikan tidak akan eksklusif jadi milik sekolah. Semua hal akan bisa dipelajari secara online berkat kecanggihan teknologi. Seperti mie instan, mudah dan cepat. Namun dampaknya, kita akan punya anak-anak yang tidak paham proses, tidak tahu cara membangun relasi, tidak bisa bekerja sama, tidak tahu cara mengelola emosi, tidak paham empati dan simpati.

Sayangnya saat ini, semua sibuk standarisasi, sertifikasi, akreditasi, dan asi-asi lainnya. Tapi lupa, sistem pendidikan yang paling bagus pun akan jadi tidak berarti tanpa manusianya. Pendidikannya tinggi, tapi tidak punya hati.

Pendidikan adalah pekerjaan rumah kita bersama. Sudah saatnya para pendidik kembali ke ruhnya. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *