Sistem Among

Dalam praktiknya, sistem among perlu diterapkan secara berimbang. Dalam Gerakan Pramuka, sistem among itu dibagi ke dalam tiga golongan usia, yaitu siaga (7-10 tahun), penggalang (11-15 tahun), dan penegak (16-20 tahun). Saya tidak memasukkan golongan pandega, karena menurut saya usia 21 tahun ke atas sudah tidak layak disebut sebagai peserta didik. Sederhananya sistem among dalam Gerakan Pramuka dilukiskan seperti diagram berikut:

Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan), menjadi pondasi bagi setiap golongan. Tanpa keteladanan, pendidikan akan menjadi sia-sia. Namun, di lapangan inilah hal yang paling sulit dijalankan. Bagaimana tidak, semisal ingin mendidik anak menjadi rajin, hadir tepat waktu, tapi kita sebagai pendidik sering absen, datang terlambat, maka pasti ajakan kita supaya anak rajin akan dipandang sebelah mata oleh mereka. Atau jika ingin anak-anak tidak merokok, ya jangan harap berhasil kalau kita sebagai pendidiknya/orangtua memberi teladan suka merokok.

Kemudian dua konsep yang lainnya, dijalankan secara bertahap pada setiap golongan. Untuk golongan siaga, ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat), menjadi bagian yang lebih utama dibandingkan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Karena pada usia siaga, karsa/semanagat/kemauan adalah kata kunci bagi mereka. Kegiatan-kegiatan penuh cerita, nyanyian, gerak, dan permainan, adalah warna kegiatan siaga.

Untuk golongan penggalang, membangun semangat dan memberi dorongan, dijalankan dengan porsi yang kurang lebih sama. Pada usia penggalang, anak-anak tengah merasakan masa puber serta membangun kemampuan nalar mereka. Kegiatan-kegiatan beregu, seperti berkemah yang mengasah kemampuan bersosialisasi dan sekaligus mengasah kemandirian, jadi kunci agar anak-anak dapat melewati fase ini dengan baik.

Untuk golongan penegak, memberi dorongan dari belakang, lebih diutamakan. Anak-anak diharapkan telah memiliki kemampuan memotivasi serta semangat yang cukup dari dalam diri. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, seperti kemah bakti atau kegiatan SAR, akan menantang anak-anak untuk memberikan yang terbaik.

Perlu dicatat, Gerakan Pramuka ini murni berbasis usia, jika misalkan seorang anak baru bergabung di usia 12 tahun, walau ia belum pernah ikut kegiatan siaga, maka ia tetap masuk golongan penggalang. Pun demikian jika ternyata ia kesulitan untuk menuntaskan SKU – Syarat Kecakapan Umum (semacam penilaian kemampuan anak), ketika ia menginjak usia 16 tahun, ia otomatis pindah kedalam golongan penegak. Tidak ada istilah tinggal kelas, karena memang tidak ada kelasnya.

Sungguh menarik, bagaimana sistem among ternyata masih relevan dengan kondisi saat ini. Jika kita ingin menciptakan tunas-tunas bangsa yang unggul, maka dalam kesehariannya seorang pendidik wajib mengimplementasikannya dalam kegiatan sehari-hari. Kemajuan teknologi kita perhatikan melipatgandakan tingkat kesulitan mendampingi anak-anak. Sulit fokus, menunda-nunda pekerjaan, dan kesulitan bersosialisasi, adalah beberapa persoalan anak-anak saat ini. Dengan menguatkan sistem among, diharapkan kesulitan-kesulitan tersebut dapat kita atasi.

Pada akhirnya, prinsip-prinsip sistem among hanya akan menjadi pajangan belaka tanpa struktur dan program kerja yang mendukung. Bagaimana supaya bisa diterapkan dalam kegiatan sehari-hari? Kita akan coba bahas di artikel berikutya.

”Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.”

Ki Hadjar Dewantara

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *